Khawatir Sepi, Salatiga Minta Pintu Tol

m²   
Rp ,-

August 18, 2014 03:33

Rencana dibangunnya jalan tol Trans Jawa ternyata memunculkan kehawatiran bagi sebagian masyarakat Salatiga. Jika tol itu operasikan, “Kota Sejuk” ini akan jarang dilewati pengguna jalan karena lebih senang lewat jalan tol. Dengan begitu, kota menjadi sepi. Hal itu diutarakan Wakil Wali Kota Salatiga Muh Haris saat menyampikan aspirasi dalam dialog dengan Menteri Koordinator Perekonomian RI Hatta Rajasa di RS Sejahtera Bhakti dan Holistik, Tegalrejo Salatiga, Minggu (4/7).

Kedatangan Hatta Rajasa dalam rangka silaturahmi dengan pemilik RS Sejahtera Bhati Prof Dr HD Haryoko yang merupakan teman lama. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk dialog terbuka yang dihadiri di antaranya Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, Wali Kota Salatiga Yuliyanto dan wakil Muh Haris, Bupati Semarang Mundjirin, Kapolres Salatiga AKBP Dwi Tunggal Jaldri, dan para tokoh masyarakat. “Jalan tol tentunya akan berdampak positif karena arus lalu lintas menjadi lancar. Tetapi bagi masyarakat Salatiga terutama pelaku dunia usaha restoran, pariwisata, dan hotel ada timbul kekhawatiran, Salatiga menjadi sepi,” kata Muh Haris sedikit berkelakar.

Menanggapi pertanyaan itu, Hatta Rajasa mengatakan, jalan tol merupakan program nasional. Pemerintah terus agresif untuk membangun proyek ini sehingga tidak bisa ditawar lagi. “Solusinya, di Salatiga nanti akan disediakan pintu keluar tol. Jadi tidak usah khawatir Salatiga nanti tetap ramai. Jika tidak ada pintu tol di Salatiga bukan Salatiga tetapi salah semua,” katanya yang disambut tawa hadirin. Pertanyaan lain disampikan Kepala SMP 4, HM Munadzir, tentang dampak kenaikan BBM yang membuat sengsara masyarakat terutama masyarakat menengah ke bawah. Terlebih menjelang bulan Ramadan dan Lebaran seperti ini harga BBM justru naik yang menyebabkan inflasi. BBM Menanggapi hal itu, Hatta yang juga Ketua Umum DPP PAN mengatakan, kebijakan menaikkan harga BBM adalah solusi terakhir. Pertimbangannya bahwa subsidi BBM dari pemerintah sudah terlalu besar. Ironisnya, subsidi itu ternyata salah sasaran. Menurutnya, sekitar Rp 300 triliun dikucurkan pemerintah untuk menyubsidi BBM setiap tahun. Sekitar 70 persen dari subsidi itu dinikmati golongan menengah ke atas. “Memang kami akui dampak kenaikan BBM terjadi inflasi. Tetapi pemerintah sudah mengantisipasi dengan pemberian bantuan masyarakat miskin melalui Kartu Perlindungan Sosial (KPS). Dari KPS ini bisa diwujudkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) juga Bantuan Siswa Miskin (BSM).

Bupati Semarang Mundjirin tak ketinggalan me­nyampaikan aspirasi. Dia mengharapkan perhatian dan bantuan dari pemerintah pusat terkait pembangunan Pasar Projo Ambarawa yang hingga kini belum ada kepastian kapan pasar itu segera dapat dibangun. “Ketika Pasar Projo belum bisa dibangun, awal puasa lalu Pasar Babadan Ungaran kembali terbakar. Jika mengandalkan dari APBD Kabupaten Semarang jelas tidak mampu. Untuk itu kami minta bantuan dari pemerintah pusat,” harap Mundjirin. Mendengar keluhan tersebut, Hatta Rajasa mengatakan, pihaknya segera akan mengkoordinasikan dengan menteri-menteri terkait untuk dapat segera membantu dalam pembangunan dua pasar di Ungaran yang terbakar itu. “Pasar adalah sumber perekenomian warga. Dari pasar itulah hasil bumi rakyat akan dapat diputar, begitu pula sebaliknya,” tuturnya.

sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/08/05/233162/Khawatir-Sepi-Salatiga-Minta-Pintu-Tol

Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*